Kamis, 02 Oktober 2014
Indonesia (Bahasa Indonesia)English (United Kingdom)
Teroris Di Indonesia Dan Usaha-Usaha Yang Diambil Untuk Mengalahkan Masalah
Sabtu, 20 September 2003 20:35    PDF Print E-mail

Isu dari teroris global sudah menjadi hal penting sejak serangan teroris di Pusat Perdagangan Dunia AS dan Pentagon di September 11, 2001. Di dalam menanggapi serangan teroris itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang dipimpin oleh AS, sudah melaksanakan suatu kampanye untuk membawa semua negara-negara bersama-sama kepada teroris serangan balasan global yang adalah suatu ancaman keamanan dunia.

Jauh sebelum 11 September bahwa Indonesia telah menderita serangan teroris karena satu rangkaian tindakan-tindakan teroris yang terjadi dari 2000-2001. Ini yang dimasukkan satu rangkaian ledakan-ledakan dalam tujuh kota yang besar yang menargetkan gereja-gereja di Malam Hari Natal pada tahun 2000 dan beberapa wilayah umum yang lain ( seperti pusat perbelanjaan dan alun-alun, dan bangunan Jakarta Stock Exchange). Ada banyak korban, walau tidak sejumlah yang sama pada serangan teroris 11 September.

Pada kampanye anti teroris, beberapa negara-negara, termasuk negara-negara ASEAN, secara langsung bertanggung jawab dalam penangkapan teroris dengan menggolongkan dan menerapkan tindakan keamanan internal pada setiap negara masing-masing. Pada waktu yang sama, Indonesia juga telah mencurigai dalam hubungan pemboman, tetapi mereka yang tidaklah disebut teroris karena istilah "teroris" tidak terdapat di perundang-undangan Indonesia dan perundang-undangan Anti-Subversion telah dihapuskan selama "Zaman Reformasi" (post-Suharto administrasi).

Permulaan, banyak dari masyarakat Indonesia belum menyadari akan ancaman teror bahwa bisa terjadi pada setiap waktu, dan tidak pandang pada target atau tempat. Usaha-usaha dari pemerintah di dalam menetralkan kelompok-kelompok yang terlibat, sering kali bertemu kelompok-kelompok tertentu dengan menuduh pemerintah tentang memecahkan Islam dengan menggambarkan dan menyamaratakan bahwa teroris digolongkan Islam. Dari hasil tersebut, pemerintah menjadi lebih berhati-hati secara representatif dalam bertindak. Dalam waktu itu, negara-negara lain bertindak melawan kelompok teroris dan menangkap informasi dengan mengumpulkan aktifitas kelompok teroris di Indonesia.

Pengaruh dari hal ini bahwa Indonesia, pada waktu itu, dituduh tidak serius dalam menangani terorisme. Di sana masih banyak peristiwa teroris dan para pelakunya masih bebas dan belum ditangkap. Pandangan negatif pada Indonesia, bagaimanapun, berubah secara total setelah Bali Bombing di Oktober 12, 2002 bahwa telah terbunuh 202 orang dan terluka 235 orang. (kebanyakan korban-korban berasal dari Australia, Eropa dan Asia).

Tragedi di Bali menimbulkan banyak dukungan penawaran negara-negara lain ke Indonesia -dalam membantu korban-korban, di dalam membongkar kasus, dan di dalam memburu orang yang dicurigai. Oleh karena dukungan dari banyak negara dalam bentuk peralatan dan keahlian profesional, kerjasama yang baik, dan yang disertai oleh para anggota yang bermotivasi tinggi, kasus bom Bali terbongkar kurang dari satu bulan. Lebih dari itu, jaringan dari pemboman menjadi terungkap dan tertangkap. Misteri dari banyaknya teroris yang bertindak sejak 2000 juga dapat terungkap.

Dari perspektif yang lain, kasus Bom Bali menyebabkan kerusakan pada pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Itu mempengaruhi dalam Industri pariwisata-dunia tidak bisa bergantung pada suatu jaminan dari keselamatan di Indonesia. Sebaliknya, penanganan yang sukses kasus bom Bali menjadi langkah untung seperti:

  1. Menciptakan satu kesadaran di dalam masyarakat Indonesia dari ancaman teroris yang ada di Indonesia.
  2. Kembalinya internasional dan kepercayaan domestik pada Pemerintah Indonesia dalam menangani teroris.
  3. Alir simpati dan dukungan dari negara-negara lainnya untuk mengalahkan efek bom Bali.
  4. Penawaran bantuan dari banyak negara untuk memperbaiki anti teroris dalam wujud peralatan, pelatihan dan keuangan.

Sukses dalam membongkar kasus bom Bali dan menangkap banyak penjahat yang terlibat kasus-kasus teroris, yang terjadi bersamaan sebelum dan setelah tragedi Bali dalam 2002 maupun di dalam 2003 (seperti kasus-kasus di Makasar, Markas besar kepolisian, Airport, di Parliament Building dan JW Marriott) sudah mengubah pandangan negatif: dari satu gambaran negara yang tidak serius menindaki teroris menjadi negara yang sukses melawan teroris.

Sukses dalam membongkar teroris tidak berarti bahwa Indonesia bebas dari ancaman teroris. Dari satu analisa dari trend teroris di Indonesia, beberapa faktor-faktor menunjukkan bahwa Indonesia sangatlah rentan terhadap ancaman dari teroris. Usaha-usaha untuk mengalahkan teroris di Indonesia ada sedikitnya tiga masalah pokok yang perlu diperhatikan:

  1. Menyerang teroris global memerlukan kerjasama antara negara-negara.
  2. Semua kasus terorisme harus sepenuhnya dengan penangkapan semua penjahat dan jaringan mereka. Hal ini harus dilakukan sesuai hukum yang ada.
  3. Usaha-usaha represif, diperlukan langkah-langkah yang diambil untuk mencegah tindakan-tindakan teroris yang akan terjadi. Ini bukanlah hanya tanggung jawab segi keamanan tetapi harus seluruh aspek institusi yang terkait termasuk masyarakat diri sendiri.

    Untuk mendiskusikan permasalahan teroris dan usaha-usaha untuk mengalahkan, beberapa materi yang harus dibahas secara lebih detil:

    1. Trend dalam pengembangan dari teroris di Indonesia.
    2. Hasil dalam penanganan permasalahan teroris.
    3. Satu analisa dari aktivitas jaringan teroris di Indonesia.
    4. Usaha di dalam menanggulangi teroris.

    Trend di dalam Pengembangan dari Terorisme di Indonesia

    1. Pengembangan dari Terorisme di Indonesia Pengembangan dari terorisme di Indonesia dapat dilihat dari data dari peristiwa-peristiwa di mana material bahan ledak digunakan. Data ini adalah dari Markas besar kepolisian:

      Peristiwa-Peristiwa Kriminal dengan Material Bahan Ledak telah digunakan di Indonesia: Periode 1999 -2003

      1999 2000 2001 2002 2003
      Peristiwa 7 75 81 25 8
      Dipecahkan 3 42 59 16 8
      Yang diselidiki 4 33 22 9 0

      Peristiwa-Peristiwa Teror Material Bahan Ledak yang Digunakan di Indonesia: Periode 1999-2003

      1999 2000 2001 2002 2003
      Peristiwa 3 38 4 6 8
      Dipecahkan 2 34 4 6 8
      Yang diselidiki 1 4 0 0 0
    2. Peristiwa Terorisme Profil tinggi di Indonesia
      Di antara peristiwa-peristiwa yang menggunakan material bahan ledak dan dapat digolongkan ketika kasus-kasus teroris, hal ini sangat diperhatikan secara serius oleh publik dan internasional.

Hasil-hasil dari Ukuran-ukuran Teroris
Usaha-usaha penting telah diambil untuk tempat teroris yang konter dan ini adalah hasil-hasil dari operasi dalam memburu orang yang dicurigai dari kasus Bom Bali Oktober 2002. Operasi ini diselenggarakan oleh suatu regu khusus yang terbentuk setelah pemboman. Pada awalnya, tugas utama dari regu itu untuk memburu orang yang dicurigai yang terlibat dalam pemboman Bali, selama keadaan operasi, regu itu sukses dalam menangkap orang yang dicurigai dan membongkar jaringan yang terlibat dalam peristiwa teroris lain di Indonesia karena 2000 (terutama di Malam Hari Natal 2000).

Oleh karena; berhubungan dengan suksesnya operasi, tugas regu itu diperluas untuk melanjutkan dengan pemburuan dan penangkapan tersangka yang terlibat dalam Pemboman Bali dan peristiwa teroris lain. Selama operasi Pemboman Bali, 80 anggota teroris telah ditangkap dari banyak lokasi ke seberang Indonesia.

Ketika pernyataan dari orang yang dicurigai yang ditangkap langsung diuji dan yang disambungkan ke lokasi keterlibatan mereka di dalam aktivitas, itu telah jelas bahwa kebanyakan dari kasus-kasus teroris yang penting di Indonesia dapat terbongkar, kecuali ledakan di Kantor Kejaksaan Agung pada 2001.

Sukses dalam pembongkaran jaringan teror JI dan pengalaman selama operasi sangatlah penting di dalam meningkatkan kemampuan penyelidik dalam membongkar peristiwa teroris setelah Bali dibom. Informasi mengumpulkan dari tersangka dan pengalaman memperoleh di kemudian, itu sangat jelas bahwa peristiwa-peristiwa teroris yang terjadi dikemudian, seperti bom Makasar , bom Markas besar kepolisian dan beberapa kasus pengeboman yang lain termasuk bom JW Marriott Hotel yang dapat dipecahkan dan yang diungkapkan dalam waktu singkat.

Lebih dari itu, dari menangkap/menghentikan tentang banyak analisa lebih baik sudah diselenggarakan yang mampu mengantisipasi kejadian lebih lanjut dari peristiwa-peristiwa teroris dan mencegah setiap serangan-serangan yang direncanakan. Penemuan dari sejumlah besar material perlengkapan senjata dan bahan ledak pada beberapa lokasi persembunyian teroris merupakan hal penting dalam mencegah rencana teroris yang dirancang oleh kelompok teroris.

Jaringan Teroris di Indonesia

a. Golong Teroris
Dasar pembongkaran peristiwa teroris di Indonesia, teroris dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok :

  1. GAM (Gerakan Aceh Merdeka -Free Aceh Movement): orang yang dicurigai dari Kelompok Aceh Separatist yang menyelesaikan tindak teroris di luar Nangroe Aceh Darussalam (NAD) wilayah teritorial. Sasaran dari tindak teroris untuk menciptakan kekacauan dan menyebabkan ketidakstabilan snegara dari Republik Indonesia. Targetnya: Bangunan pemerintah, kantor-kantor, dan instalasi-instalasi hal penting; wilayah umum dan pusat belanja.
  2. Kelompok Islam Radikal ( JI) :Para anggota Jemaah Islamiah, yang ditemukan oleh Abdullah Sungkar di Malaysia dan lalu dilanjutkan oleh Abu Bakar Basir. Tujuan mereka untuk menerapkan Islam Sharia Hukum (untuk membentuk suatu Greater Islamic State). Sasaran dari teroris mereka bertindak untuk mengira pembalasan dendam, perawatan yang tidak adil menghubungkan dengan Islam. Target-target:
    1. Pada awalnya, tempat beribadat, gedung-gedung/perkantoran/kedutaan wakil-wakil yang asing ( yang disebut 'Target-target Sulit')
    2. Ini sudah berubah 'Target-target lembut': tempat-tempat publik, pusat belanja, hotel-hotel, kelab malam, dan gedung-gedung/kedutaan dengan koneksi-koneksi AS.
  3. Kelompok lain dengan alasan-alasan yang individu: Target : Orang-orang atau bangunan, dengan alasan pembalasan dendam yang berkenaan dengan keluhan yang individu.

b. Struktur Organisasi
Salah satu teroris paling aktif yang sudah melaksanakan banyak aktivitas di Indonesia adalah Jemaah Islamiyah (JI) yang dipimpin oleh Abu Bakar Basyir (seperti ketika pemimpin rohani Amir). Organisasi tersebut tidak secara resmi ada dan yang didasarkan pada pintu masuk tersangka.

Tujuan utama dari JI adalah perwujudan suatu Golongan Grater Islamic untuk menutupi keterlibatan meliputi : bagian dari Thailand, Malaysia, Singapura, Indonesia dan Negara Pilipina.

Langkah-langkah keterlibatan dalam memperkuat tekad tentangnya para anggota dengan pemahaman:

  1. visi dan misi JI
  2. kumpulan perencanaan strategis
  3. Implementasi
  4. Pembentukan atau penciptaan unit-unit
  5. memutuskan target-target operasional
  6. ketetapan peralatan
  7. menyelesaikan aktivitas.

c. Daerah kerja Wilayah
Untuk persyaratan-persyaratan dari strategi mereka, JI membagi daerah kerja mereka yang wilayah ke dalam empat bidang (Mantiki). Ini adalah :

  1. Mantiqi Ula/I :Singapura perlindungan wilayah ekonomi dan Malaysia. Pemimpin pembentuk adalah HAMBALI dan lalu diubah ke MUKLAS
  2. Mantiqi Sani/II :Konflik Area perlindungan bagian dari Indonesia dan yang dipimpin oleh ABU IRSYAD
  3. Mantiqi Thalid/III: Pelatihan Area perlindungan selatan Pilipina bidang dari Mindanau, dan yang dipimpin oleh MOHNASIR
  4. Mantiqi Ukhro/IV perlindungan Australia, dan yang dipimpin oleh ABD ROHMI AYUB

Setiap Mantiqi yang dibagi menjadi Wakalah
Setiap Wakalah mensupervisi suatu Chatibah Qirdas
Setiap Qirdas mensupervisi Fiah.

d. Pembagian kerja di Activities
Untuk menyelesaikan pembagian kerja aktivitas teroris mereka mulai dengan: Perencana Strategis, Kelayakan Study/Penelitian, Ladang Observer, pembuat keputusan target, penyedia logistik/transportasi, Pembuat pengeboman, asisten dan bomber.

e. Penyaluran Dasar
Sumber dari pembiayaan JI adalah dari:

  1. Sumbangan dari para anggota +5% dari pendapatan mereka
  2. Sumbangan dari masyarakat
  3. Sumbangan dari Fisabililah
  4. Sumbangan Wajib dari pendapatan
  5. Sumbangan Wajib pada akhir Ramadhan (puasa bulan) perayaan-perayaan
  6. Al Qaeda
  7. Sumbangan dari Parties
  8. FA'I (uang memperoleh dari yang tidak islam oleh apapun yang digunakan untuk kemajuan dari Islam)

Funds yang dikumpulkan digunakan untuk aktivitas untuk membantu Muslim dalam konflik, untuk pelatihan, karena membeli senjata-senjata dan karena membiayai teroris activities/ledakan yang dilaksanakan oleh unit-unit mereka yang khusus. Sebagai contoh dana digunakan untuk:

  1. Untuk membiayai bidang-bidang dari konflik: Ambon, Poso
  2. Membeli senjata dan mengirimkan mereka ke bidang-bidang konflik
  3. Mengirimkan anggota untuk menyelesaikan Jihad dan untuk pelatihan di Afghanistan
  4. Membiayai untuk pelatihan militer dalam Islam Akademi Militer training Camp, di Moro.
  5. 5. Malam Hari Natal 2002 membom: Medan, Siantar, Pekanbaru, Batam, Jakarta, Bandung, Sukabumi, Mojokerto dan Mataram.
  6. Membom selama 2001 di Jakarta (Atrium Senen, Santa Ana dan HKBP gereja-gereja), Kerinci dinding jangkar/biaya labuh, Pekan Baru dan Medan.
  7. Bali Bombing dalam 2002 (US$35,500)
  8. Kegiatan-Kegiatan Perencanaan di Singapura (Bernyanyi $50,500)
  9. Membom JW Marriott Hotel

Meningkatkan Usaha-Usaha Menghapuskan Teroris
Sukses-sukses sampai saat ini di dalam menangkap/menghentikan tentang teroris-teroris tidak berarti bahwa Pemerintah Indonesia telah mampu menghapuskan ancaman dari terorisme di Indonesia.

Faktor-faktor bahwa menguatkan ancaman dari terorisme di Indonesia termasuk:

  1. Masih ada banyak anggota Islam radikal menggolongkan yang secara langsung terlibatkan dalam tindakan-tindakan teroris dan siapa yang masih diinginkan oleh polisi. Mereka adalah sangat gerak dan mampu melintasi provinsi-provinsi, pulau-pulau dan bahkan negara-negara. Mereka bersifat militan dan tidak takut tentang ancaman dari hukuman mati jika mereka dicoba.
  2. Terorisme global sejauh ini mempunyai sukses di dalam menerapkan suatu strategi tentang manipulasi isu-isu yang religius dan mengambil keuntungan dari dendam-dendam atau kesetiakawanan religius untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat. Strategi ini adalah sangat efektif ketika yang diterapkan di Indonesia karena masyarakat Indonesia itu mempunyai suatu kultur dari " gotong-royong" dan kesetiakawanan antar Muslims adalah ketinggian. Kondisi-kondisi ini membantu teroris menggolongkan untuk bersembunyi dan meminta perlindungan di antara masyarakat bahwa tidak merasa bahwa itu sudah dirintangi oleh strategi teroris itu.
  3. tindakan-tindakan AS yang sabar dalam melawan teroris dengan memecahkan negara Islam seperti Afghanistan dan Iraq sudah menyebabkan satu reaksi yang antipathetic kepada AS. Reaksi ini dipertajam oleh pengembangan dari kabar angin yang AS sedang berkomplot dengan teroris untuk mengambil alih ladang minyak, kabar angin dari perilaku AS kadang-kadang menciptakan dua patokan yang mengakibatkan ketidakadilan-ketidakadilan yang dilaksanakan terhadap Muslims sepanjang dunia.
  4. Pernyataan dari kebanyakan dari orang yang dicurigai ydan tertangkap menunjukkan keteguhan hati mereka di dalam pemahaman jihad mereka yang membenarkan tindakan-tindakan mereka yang kejam atau bahkan tindakan-tindakan teroris mereka ketika mereka melakukan dalam pembelaan diri atau dalam melindungi tekanan melaksanakan Muslim.
  5. Di dalam periode yang mendekati Pemilihan Umum dari Indonesia tahun 2004 pilihan yang politis akan sedang mencari dukungan dari rakyat banyak. Bagi mereka menggambarkan yang sedang mencari dukungan dari kelompok mayoritas (Islam-islam) mereka bukan statemen-statemen buatan bahwa boleh mengisolasikan golongan Muslim.

Meningkatkan Usaha-usaha untuk Menghapuskan Teroris di Indonesia
Mempertimbangkan lingkungan peka, dalam memerangi teroris di Indonesia perlu dipertimbangkan bahwa usaha-usaha akan efektif ketika itu bukanlah hanya mengarahkan pada tindakan-tindakan yang represif (penangkapan dan memburu teroris-teroris). Hal yang paling penting adalah :bagaimana caranya mencegah tindakan-tindakan melalui peningkatan dari kewaspadaan sehingga tidak ada peluang untuk teroris-teroris, seperti juga usaha-usaha untuk memberi informasi kepada masyarakat sehingga mereka tidak dirintangi atau yang terjerat oleh strategi teroris yang mengolah Islam pengajaran-pengajaran untuk menemukan dukungan dari masyarakat yang lebih luas. ......... Sejalan dengan aktivitas di dalam menyelesaikan.

Pada waktu yang sama hasil polisi Indonesia itu yang meningkatkan usaha-usaha dan kemampuan mereka kepada melawan terorisme, seperti;

  1. 1. Menciptakan dan Increasing Capabilities dari Anti Terrorist Unit.
    1. Pembentukan Anti Terrorism Coordination Desk menempatkan di kantor dari Coordinating Minister untuk Politics dan Security.
    2. Meningkatkan koordinasi kecerdasan(inteligen dan berhubungan lembaga; institusi termasuk: BAK/PETI (Tubuh Kecerdasan(Inteligen Nasional), BIK (Menjaga ketertiban Intelligence Body), Intelligence milik jaksa agung, National Army Intelligence Indonesia, Departemen dari Finance/Customs, Bank dari Indonesia, Departemen dari State Affairs, dll.
    3. Pembentukan Yang Khusus Anti Unit Teroris:
      1. Pembentukan Direktorat VI Bareskrim (Tubuh Penyelidikan Jahat)
      2. Pembentukan Permanent Anti Terrorist Unit pada Markas besar kepolisian dan pada Pos polisi regional.
  2. Memperbaharui Perundang-undangan:
    1. Pengesahan Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai usaha-usaha untuk [berjuang/ berkelahi] terorisme.
    2. Pembekuan asset-asset mencurigai tentang mahluk yang digunakan di dalam aktivitas teroris.
    3. Mensahihkan Regulation 15/2003 mengenai penghapusan terorisme
  3. Meningkatkan kooperasi internasional dan regional:
    1. Mengambil bagian di dalam pertemuan-pertemuan forum regional :ASEAN, ARF, AMMTC, dll.
    2. Meningkatkan pertukaran dari informasi kecerdasan(inteligen dengan negara-negara ASEAN, negara-negara tetangga, dan negara-negara lain : Australia, AS, Jerman, Jepang, dll.
    3. Pembentukan suatu Joint Task Force dalam satu usaha untuk membongkar kasus-kasus teroris dan di dalam berburu teroris-teroris.
  4. Meningkatkan mutu ketrampilan dari Anti Terrorist Unit.
    1. Perhebat aktivitas pendeteksian dan pembongkaran jaringan teroris
    2. Menemukan dan memaksimalkan dukungan pelatihan untuk kemampuan Anti Terrorist dari yang domestik dan latihan luar negeri: AS, Australia, Jerman, Jepang, dll.
    3. Meningkat;kan kemampuan anti peralatan teroris teknologi: Telekomunikasi-telekomunikasi, Identifikasi, mobilitas /transportation)
  5. Meningkatkan Kemampuan untuk Mencegah Terorisme.
    1. Meningkat;kan sistem keamanan lingkungan kita(kami yang pribadi: lingkungan kerja, lingkungan hotel, pusat belanja dan proyek-proyek penting.
    2. Meningkatkan kewaspadaan di antara masyarakat kepada ancaman dari terorisme:
      1. Dorong dan maksimalkan pemakaian media massa
      2. Dorong peran dari masyarakat yang berpengaruh menggambarkan dan figur-figur religius mengembangkan masyarakat.

Jakarta, September 2003