Rabu, 03 September 2014
Indonesia (Bahasa Indonesia)English (United Kingdom)
Berita
Operasi jaringan 'sextortion' di Filipina atas dukungan INTERPOL
Selasa, 02 September 2014 16:33    PDF Print E-mail

alt

BUCALAN, Filipina - Sebuah operasi yang dilakukan oleh Kepolisian Nasional Filipina berhasil melakukan penangkapan delapan tersangka yang dituduh terlibat dalam komplotan pemerasan seksual secara online yang memeras korban di Asia setelah membujuk mereka ke dalam kegiatan cybersex dan merekamnya.

Operation Strikeback II juga menyelamatkan lima anak di bawah umur yang diduga digunakan oleh komplotan pemeras tersebut, dan menyita lebih dari 100 barang bukti elektronik. Operasi ini didukung oleh petugas dari INTERPOL Digital Crime Centre (IDCC) di Singapura, Kepolisian Hong Kong, dan Kepolisian Singapura.

Penggerebekan oleh Kepolisian Nasional Filipina terhadap komplotan 'sextortion' di provinsi Bucalan pada tanggal 21 Agustus lalu merupakan tindak lanjut Operation Strikeback pada bulan April dan Mei yang menangkap 58 tersangka.

Director of the PNP Anti-Cybercrime Group, Police Senior Superintendent Gilbert C. SOSA mengatakan bahwa operasi ini telah “menghancurkan” komplotan yang diduga memperdaya ratusan korban yang merupakan warga Hong Kong dan Singapura dalam dua tahun terakhir.

Direktur IDCC Sanjay Virmani menggarisbawahi peran IDCC dalam mendukung negara-negara anggota INTERPOL dalam upaya mencegah dan menyelidiki kejahatan online yang memiliki dampak yang sangat nyata pada kehidupan warga di seluruh dunia.

Dengan IDCC sebagai elemen kunci dari INTERPOL Global Complex for Innovation (IGCI) yang dibuka di Singapura pada akhir tahun ini, Direktur Eksekutif IGCI Noboru Nakatani mengatakan: "IGCI akan memainkan peran penting dalam menjaga dunia maya bebas dari semua jenis kegiatan kriminal. Dengan dukungan INTERPOL, “Operation Strikeback” yang telah sukses dilaksanakan oleh Kepolisian Nasional Filipina ini akan menjadi model untuk operasi di masa depan dalam memberantas pemerasan secara online, tidak hanya di Asia tetapi di kawasan lain di dunia. "

Selain IDCC, Kepolisian Hong Kong, dan Kepolisian Singapura, “Operation Strikeback” pertama awal tahun ini juga melibatkan petugas dari Kepolisian Skotlandia yang menyelidiki kasus Daniel Perry, seorang remaja Skotlandia yang dilaporkan bunuh diri setelah menjadi korban pemerasan online.

(sumber: INTERPOL)

 
Workshop INTERPOL di Kuala Lumpur Menandai Peluncuran Program Penanggulangan Terorisme Kawasan
Rabu, 27 Agustus 2014 15:37    PDF Print E-mail

alt

KUALA LUMPUR, Malaysia - Lebih dari 40 penegak hukum senior dan petugas pengamanan perbatasan dari negara-negara di seluruh Asia Tenggara berkumpul di Kuala Lumpur untuk menghadiri workshop yang menandai peluncuran Program Penanggulangan Terorisme INTERPOL selama tiga tahun di kawasan ini.

Didukung oleh pemerintah Kanada dan Australia, pertemuan yang dilaksanakan tanggal 13-15 Agustus 2014 memberikan kesempatan untuk membahas strategi yang mendasari program tersebut, yang akan mendukung petugas keamanan di seluruh Asia Tenggara melalui kegiatan pelatihan dan operasional, termasuk berbagi informasi.

"Terorisme saat ini merupakan kejahatan transnasional, dan peran yang dilakukan oleh INTERPOL dalam melawan Terorisme harus ditingkatkan dan pentingnya hal tersebut diakui oleh lembaga penegak hukum di seluruh dunia. Untuk menanggulangi terorisme, baik regional maupun global, kerja sama bukan lagi penting, tetapi wajib dilaksanakan" kata Senior Assistant Commissioner Ayob Khan Bin Mydin Pitchay, Principal Assistant Director of Malaysia’s Counter-Terrorism Special Branch, pada peluncuran program ini.

Director of INTERPOL’s Counter-Terrorism, Public Safety and Maritime Security Directorate, Pierre St Hilaire, mengatakan workshop ini merupakan kesempatan penting untuk lebih meningkatkan kerja sama kepolisian internasional di seluruh kawasan ASEAN dalam melawan terorisme. Dalam hal ini ia menyambut baik kontribusi dan pertukaran trans-regional tentang tren dan respon yang dibuat oleh para ahli yang menghadiri workshop tersebut.

St Hilaire mengatakan "Upaya gabungan dari program ini dan program lainnya akan fokus pada peningkatan investigasi penanggulangan terorisme dengan meningkatkan jaringan pertukaran informasi dan mendorong kolaborasi internasional di antara lembaga penegak hukum di kawasan ASEAN"

Di antara pejabat senior yang berbicara pada upacara pembukaan, the High Commissioner of Canada to Malaysia, Judith St George, mengucapkan terima kasih kepada INTERPOL atas inisiatifnya di kawasan ini. "Terorisme merupakan ancaman, dimana tidak ada satu negara yang kebal. Kita semua harus bekerja sama tidak hanya untuk melindungi kepentingan dan keamanan nasional saja, tetapi juga keamanan kawasan kita serta keamanan dunia. Informasi dan intelijen sangat penting untuk semua upaya dalam menanggulangi terorisme”, kata Judith St George

Deputy High Commissioner of Australia to Malaysia, Jane Duke, mengatakan bahwa Australia dengan senang hati mendukung program INTERPOL dalam berbagi informasi dalam menanggulangi kejahatan lintas negara di kawasan, mengingat, ‘sifat kejahatan global yang terus berubah’.

Lembaga yang mengirim perwakilannya pada acara ini diantaranya: ASEANAPOL, Regional Support Office of the Bali Process, United Nations Office on Drugs and Crime, dan World Customs Organization, serta petugas spesialis dari Australian Federal Police (AFP), the US Federal Bureau of Investigation (FBI) dan the Royal Canadian Mounted Police (RCMP).

(sumber: INTERPOL)

 
Pelatihan INTERPOL di Indonesia Mendukung Polisi Dalam Investigasi Penyelundupan Migran
Kamis, 21 Agustus 2014 10:39    PDF Print E-mail

alt

Semarang, Indonesia – Sesi pelatihan yang pertama dari program pengembangan kapasitas Interpol dalam meningkatkan investigasi penyelundupan migran di Asia Tenggara sedang diselenggarakan di Indonesia atas kerjasama dengan Jakarta Centre for Law Enforcement Cooperation (JCLEC).

Pelatihan yang dilaksanakan selama dua minggu (11-22 Agustus) dihadiri oleh 22 petugas penegak hukum dari anti-human trafficking unit, cybercrime, National Central Bureau (NCB) dan otoritas yudisial dari delapan negara: Brunei, Kamboja, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Thailand dan Vietnam.

Pelatihan ini merupakan bagian dari program pelatihan selama dua tahun yang didukung oleh pendanaan dari pemerintah Kanada, dengan tujuan untuk membangun kapasitas investigasi dari para petugas penegak hukum di Asia Tenggara untuk mencegah perdagangan manusia dan penyeludupan migran, serta meningkatkan kerjasama kawasan dengan tujuan untuk menciptakan jaringan yang berkesinambungan di kawasan dalam berbagi pengetahuan dan keahlian.

Acara Pembukaan dihadiri oleh Komjen Pol Suhardi Alius, Kabareskrim Polri; Dale Sheehan, Direktur pengembangan kapasitas dan pelatihan INTERPOL; Brigjen Pol Soepartiwi, Direktur Eksekutif JCLEC dan Detective Superintendent Brian Thomson, Direktur Eksekutif Program dengan JCLEC.

Brigjen Pol Soepartiwi menegaskan peran penting INTERPOL dalam memerangi kejahatan Transnasional di Asia Tenggara, dan memberikan apresiasi kepada pemerintah Kanada dan INTERPOL atas dukungannya dalam mengimplementasikan program pengembangan kapasitas di kawasan.

Pada ulang tahun JCLEC yang ke-10, Mr. Sheehan mengatakan bahwa JCLEC merupakan mitra strategis INTERPOL dalam menyampaikan program pengembangan kapasitas INTERPOL. Kemitraan lebih lanjut dengan POLRI, Australia Federal Police dan Royal Canadian Mounted Police, dan dengan seluruh negara anggota ASEAN, menunjukan betapa pentingnya pertukaran dan berbagi best prectice di seluruh Asia Tenggara.

JCLEC yang berlokasi di Akademi Kepolisian Polri merupakan sumber daya untuk kawasan Asia Tenggara dalam memerangi kejahatan transnasional, khususnya memerangi terorisme melalui program pelatihan, seminar, dan workshops.

(sumber: INTERPOL)

 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 51