Senin, 24 November 2014
Indonesia (Bahasa Indonesia)English (United Kingdom)
Berita
Indonesia Menjadi Tuan Rumah Sidang Umum INTERPOL Tahun 2016
Rabu, 12 November 2014 10:35    PDF Print E-mail

alt

Sidang Umum Interpol yang berlangsung selama 5 hari dari tanggal 3-7 November 2014 telah menghasilkan beberapa resolusi diantaranya menekankan pada penguatan kerja sama dalam penanggulangan keamanan lingkungan, kejahatan kontemporer, terorisme, kejahatan terorganisir, dan cybercrime dengan berbagai mitra, baik dengan organisasi regional seperti Europol, Aseanapol, Afripol, serta sektor swasta.

Pada Sidang Umum ini telah terpilih Mr. Jürgen Stock, Vice President BKA Jerman, sebagai Sekretaris Jenderal INTERPOL menggantikan Mr. Ronald K. Nobel yang telah memegang jabatan ini selama 3 periode. Dalam sambutannya, Jurgen mengatakan bahwa “konflik geopolitik, risiko kesehatan, ancaman lingkungan, terorisme, kejahatan transnasional teorganisir dan khususnya cybercime, merupakan tantangan yang tidak dapat ditangani sendirian oleh suatu negara”. Dengan tema Sidang Umum Interpol tahun ini yaitu ‘Turn Back Crime: 100 years of international police cooperation’, Sekretaris Jenderal Stock menyampaikan visinya untuk pengembangan organisasi kepolisian terbesar di dunia ini didasarkan pada 4 pilar yaitu core business, inovasi, kemitraan dan governance.

Organisasi harus digunakan lebih intensif sebagai think tank polisi dunia dan mempromosikan dialog kreatif," kata Stock, yang menyoroti perlunya pendekatan kemitraan antara dua komunitas yaitu penegak hukum dan sektor swasta untuk mengkonsolidasikan upaya inovatif terhadap keamanan global.

Setelah Asia Airways bergabung dalam INTERPOL’s pioneering I-Checkit initiative sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan keamanan perjalanan internasional, Qatar Airways telah menandatangani perjanjian dengan INTERPOL untuk menggunakan sistem I-Checkit untuk skrining paspor penumpang melalui database dokumen perjalanan hilang atau curian. Dengan penggunaan I-Checkit ini dapat memudahkan dalam pelacakan para pelaku kejahatan dan tidak ada lagi tempat persembunyian yang aman bagi mereka di muka bumi ini.

Pada sesi ahir tanggal 7 November 2014, Sidang Umum mendeklarasikan Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan Sidang Umum Interpol ke-85 tahun 2016. Kepala Divisi Hubungan Internasional Polri, Irjen Pol Drs. Sugeng Priyanto menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungannya dan mengundang seluruh delegasi dari 190 negara anggota Interpol untuk menghadiri Sidang Umum tersebut. (DHI)

alt

 
Sidang Umum INTERPOL ke-83 di Monaco
Rabu, 05 November 2014 07:36    PDF Print E-mail

Together, we can TURN BACK CRIME


alt

Sidang Umum INTERPOL ke-83 di Monaco yang akan dilaksanakan selama 5 hari dari tanggal 3-7 November 2014 mengangkat tema “Turn Back Crime: 100 years of international police cooperation”. Pertemuan ini dibuka secara resmi oleh Pangeran Albet II dari Monaco pada hari senin sore (3/11/2014) yang dalam sambutannya mengatakan evolusi kejahatan dan organisasi kriminal sejak kakek buyutnya Pangeran Albert I telah mendorong para polisi dan pemimpin yudisial untuk mengadakan Kongres Kepolisian Kriminal Internasional yang pertama pada tahun 1914.

“Pertumbuhan dalam perdagangan ekonomi dan pergerakan bebas orang membutuhkan reaksi keras dari polisi, memperluas jangkauannya melampaui batas-batas negara, sehingga tidak akan dikalahkan oleh tindakan kejahatan yang memanfaatkan keuntungan dari dunia global," kata Pangeran Albert.

Presiden INTERPOL, Mireille Ballestrazzi mengatakan bahwa pertemuan bersejarah ini menegaskan visi pemimpin global yang menciptakan INTERPOL dari Kongres Kepolisian Kriminal International pertama untuk membawa polisi dunia bersama-sama sebagai kekuatan terpadu melawan ancaman kejahatan yang terus berubah.

Selama 100 tahun terakhir, kerja sama di antara kepolisian internasional telah menjadi lebih kuat yang berarti peran INTERPOL dalam mengkoordinasikan polisi dunia telah menjadi lebih penting daripada sebelumnya. Tindakan kejahatan semakin melampaui batas nasional dan berkembang secara signifikan, sementara teknologi dan peralatan kepolisian masih tertinggal.

Oleh karena itu National Central Bureaus (NCB) telah menjadi urat nadi INTERPOL. NCB INTERPOL sebagai perwakilan Negara dari keanggotaan INTERPOL merupakan titik kontak untuk semua kegiatan INTERPOL di lapangan, memberikan hubungan penting antara kepolisian nasional dan jaringan organisasi global dari 190 negara anggota. NCB mempunyai peran untuk bekerja sama baik dalam penyelidikan lintas-perbatasan, operasi dan penangkapan dan berbagi informasi kepolisian yang penting setiap hari. INTERPOL juga memungkinkan kontak langsung secara personal dengan polisi dan ahli lainnya dalam bentuk pertemuan operasional, kelompok kerja dan konferensi, di mana mereka dapat membahas masalah umum dan berbagi keahlian.

Pertemuan Menteri, menandai awal Sidang Umum INTERPOL, dimana Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keamanan dari sekitar 190 negara akan mengkaji evolusi kerjasama kepolisian internasional dan menentukan arahnya untuk menghadapi tantangan kejahatan di masa depan. Sidang Umum ini merupakan forum yang dihadiri oleh lebih dari 1.000 delegasi dari 166 negara, untuk membahas isu-isu penting termasuk membangun institusi penegak hukum yang kuat, dan meningkatkan kerjasama antara polisi dan masyarakat serta sektor swasta.

alt

Pada sesi pleno ke-4 dengan topik tentang ‘Building Stronger Institutions for (or Overcoming Obstacles to) National and International Police Cooperation’ Wakapolri, Komjen Pol Badrodin Haiti, mengingatkan kembali bahwa Monaco City, telah menjadi saksi sejarah untuk komitmen aparat penegak hukum untuk bekerja sama dalam membuat dunia menjadi tempat yang lebih aman. Monaco adalah kota bersejarah untuk semua negara anggota Interpol karena inisiatif untuk pembentukan organisasi Interpol adalah di Monaco pada tahun 1914.

‘Walaupun INTERPOL telah berkiprah selama 100 tahun, namun masih terdapat hambatan dalam menangani berbagai jenis kejahatan. Saya telah mengidentifikasi ada 4 hambatan dalam kerja sama kepolisian, lanjut Wakapolri, yaitu batas yurisdiksi dan system hukum yang berbeda yang diterapkan di setiap Negara, adanya perbedaan dalam mendefinisikan kejahatan transnasional, metode yang berbeda dalam menangani kejahatan transnasional dan ‘political will’ dari setiap Negara’. (DHI)



alt

alt

alt

 
Kunjungan Commissioner of Singapore Police Force, Peter Ng Joo Hee Ke Jakarta, Tanggal 28 Oktober 2014
Rabu, 29 Oktober 2014 16:13    PDF Print E-mail

alt

Pada tanggal 28 Oktober 2014, pukul 09.00 WIB, Kapolri telah menerima Kunjungan pamitan Kepala Kepolisian Singapura (Commissioner Of Singapore Police Force) Peter Ng Joo Hee, yang selanjutnya akan mengemban jabatan sebagai Menteri Lingkungan Hidup Singapura. Peter Ng Joo Hee memperkenalkan penggantinya, Deputy Commissioner Hoong Wee Teck, sebagai Kepala Kepolisian Singapura yang baru, yang akan dilantik pada tanggal 15 Januari 2015. Dalam pertemuan dimaksud, dibicarakan pula kerjasama penanggulangan terorisme, konferensi ASEANAPOL ke-15 yang akan diselenggarakan di Indonesia dan pelaksanaan Sidang Umum ICPO INTERPOL tahun 2016, dimana Indonesia akan menjadi tuan rumah.

Commissioner Peter Ng Joo Hee mengucapkan terima kasih kepada Kapolri atas dukungannya selama ini dan mengharapkan dibawah kepemimpinan Deputy Commissioner Hoong Wee Teck akan terjalin peningkatan kerja sama antar kedua Kepolisian. (DHI)

 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 54