Senin, 02 Maret 2015
Indonesia (Bahasa Indonesia)English (United Kingdom)
Berita
Ad-Hoc Meeting for the Legal Scrubbing of the Draft ACTIP and RPA’s Report
Senin, 02 Maret 2015 13:15    PDF Print E-mail

alt

Pada tanggal 23-26 Februari 2014 telah dilaksanakan kegiatan Ad-Hoc Meeting for the Legal Scrubbing of the Draft ASEAN Convention Against Trafficking in Persons, Especially Women and Children (ACTIP) and Regional Plan of Action (RPA) di Hotel Salak, Bogor. Kegiatan ini diikuti oleh 10 perwakilan negara ASEAN yaitu Brunei, Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Sekretariat ASEAN. Pembahasan tentang ACTIP telah berlangsung sejak tahun 2007 yang diawali dengan pertemuan tingkat menteri luar negeri ASEAN. Pada pertemuan tersebut digulirkan isu mengenai pemberantasan trafficking in person di wilayah regional ASEAN dengan Filipina sebagai Lead Shepherd.

Sebagai tindak lanjut pertemuan tersebut diadakanlah Expert working group untuk membahas draft ASEAN Convention Against Trafficking in Persons, Especially Women and Children (ACTIP) yang akan menjadi landasan hukum (Legally binding instrument) pemberantasan tindak pidana perdagangan orang di wilayah ASEAN.

Pertemuan ini merupakan pertemuan ke-10 dan kelanjutan dari Expert Working Group (EWG) ke-9 yang merupakan mandat dari pertemuan ASEAN Ministerial Meeting on Transnational Crime (AMMTC) ke-8 di Bali pada bulan November 2011 dan AMMTC ke-9 di Vientiane, Laos pada bulan September 2013. Setelah proses legal scrubbing ini, draft ACTIP dan RPA direncanakan akan di-endorse pada SOMTC ke-15 di Kamboja dan AMMTC di Malaysia ke-10 kemudian draft ini akan di tandatangani pada KTT-ASEAN.

 
Deportasi 273 WNI di Johor, Malaysia
Rabu, 18 Februari 2015 17:03    PDF Print E-mail

alt

Pada tanggal 16 Februari 2015, di Depo Imigresen Pasir Gudang, Johor-Malaysia, sejumlah 273 WNI telah didaftarkan oleh Imigresen Johor untuk mendapatkan pengesahan kewarganegaraan Indonesia dan telah diterbitkan Surat Perjalanan Laksana Pasport (SPLP) sebelum pelaksanaan deportasi.

Setelah diberikan penyuluhan hukum tentang pentingnya mematuhi peraturan perundangundangan di Malaysia, Tim deporatsi membagikan SPLP kepada 273 WNI (213 laki-laki dewasa, 56 perempuan dewasa, 4 anak-anak lelaki). Hampir 99% merupakan pelanggaran Imigrasi yakni overstayers. Sampai dengan tahun 2015, KJRI Johor Bahru telah mendeportasi sebanyak 2.347 WNI dari Depo Imigresen Pasir Gudang, Johor, Malaysia.

Para WNI deportan masuk ke Malaysia menggunakan visa turis dengan masa berlaku selama 30 hari untuk bekerja di Malaysia. Disamping itu terdapat pula para WNI masuk ke Malaysia melalui illegal migrant/people smuggling dengan moda transportasi boat pancung antara perairan Batam menuju perairan Johor dengan tidak membekali dirinya dengan paspor.

 
2 WNI Melakukan Pencurian Terhadap WN Timor Leste
Rabu, 18 Februari 2015 16:40    PDF Print E-mail

alt

Pada tanggal 6 Februari 2015, di depan pertokoan Colmera, Kecamatan Vera Cruz, Dili, telah terjadi kasus pencurian yang dilakukan oleh 2 orang WNI terhadap seorang wanita WN Timor Leste.

Korban YK mengambil uang di Bank ANZ Dili sebanyak US $ 75,000.00 dan disimpan dalam sebuah tas plastik warna hitam, kemudian pulang mengendarai mobil, tanpa disadari ada sebuah sepeda motor dikendarai 2 orang laki-laki yang mengikutinya dari belakang. Korban berhenti di depan Toko Avanca di komplek pertokoan Colmera, dan uang ditinggal di dalam mobil, korban masuk ke dalam toko, tiba-tiba terdengar kaca mobilnya dipecahkan, korban melihat seorang laki-laki mengambil tasnya yang berisi uang.

Pencuri berupaya kabur dengan melompat ke atas sepeda motor yang dikendarai seorang laki-laki. Korban yang bersuamikan seorang WNI, berteriak minta tolong sambil ikut mengejar, beberapa orang pemuda yang ada di sekitar tempat kejadian mengejar motor tersebut lalu menangkap kedua pelaku berikut barang buktinya.

Warga yang emosi beberapa kali memukul wajah kedua pelaku. Polisi dari Polresta Distrik Dili tiiba di TKP lalu membawa pelaku, barang bukti uang dan sepeda motor ke Mapolresta. Kedua pelaku ternyata WNI berinisial MY dan AS.

Atase Polri di Dili mendapat telepon dari seorang WNI yang mengatakan bahwa suaminya ditangkap polisi di Dili karena perampokan, dan meminta agar dicek kebenarannya. Atase Polri di Dili menghubungi Kepala Dep Reskrim PNTL Superintendent Ludgerio P M Lay yang membenarkan kejadian tersebut. Kasus pencurian ini selanjutnya diajukan ke sidang di Tribunal Distrik Dili.

 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 56