Jumat, 30 September 2016
Indonesia (Bahasa Indonesia)English (United Kingdom)
Berita
NCB Interpol Indonesia Gandeng Imigrasi Untuk Pengawasan Buronan Internasional Di Wilayah Perbatasan
Jumat, 23 September 2016 16:22    PDF Print E-mail

alt

Pada era global saat ini, dimana dunia seolah-olah tanpa batas (borderless world), kejahatan transnasional semakin meningkat secara signifikan dalam berbagai aspek. Kemajuan teknologi informasi dan transportasi telah dimanfaatkan para pelaku kejahatan dalam melakukan aksinya secara lebih luas dan terorganisir. Pergerakan mereka semakin mudah, kemanapun tujuan dan target operasi yang mereka anggap dapat memberikan keuntungan yang besar bagi mereka. Demikian juga dengan pelaku yang menghindar dari jerat hukum dapat bersembunyi dimanapun yang dianggap negara tersebut aman baginya.

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dan juga merupakan jalur lalu lintas perdagangan dan pelayaran internasional kemungkinan besar menjadi sasaran para pelaku kejahatan, baik sebagai target operasi maupun tempat persembunyian. Menghadapi tantangan tersebut, para penegak hukum terkait perlu meningkatkan kewaspadaan dan pengawasan, khususnya di pos-pos perbatasan yang menjadi perlintasan manusia yang masuk dan keluar wilayah Indonesia.

Berdasarkan tantangan inilah, maka Polri sebagai pelaksana NCB Interpol Indonesia dalam keanggotaan organisasi INTERPOL menggandeng dan meningkatkan kerja sama dengan Direktorat Jenderal Imigrasi melalui penandatanganan Nota Kesepahaman antara Kepolisian Negara Republik Indonesia dengan Kementerian Hukum dan HAM RI tentang Pemanfaatan Sistem INTERPOL untuk Pengawasan Lalu Lintas Orang di Tempat Pemeriksaan Imigrasi di Wilayah Republik Indonesia Acara penandatanganan kerja sama tersebut telah dilaksanakan pada tanggal 13 September 2016 oleh Kadivhubinter Polri Irjen Pol Drs. Ketut Untung Yoga, mewakili Kapolri dan Dirjen Imigrasi, Bapak DR. Ronny F. Sompie, S.H., M.H.

Peningkatan kerja sama dengan memanfaatkan Sistem INTERPOL ini merupakan salah satu strategi INTERPOL dalam upaya preventif penanggulangan kejahatan transnasional di garis terdepan wilayah perbatasan. Dengan mencegah dan menangkal pelaku kejahatan di wilayah perbatasan diharapkan dapat mengurangi atau bahkan mencegah terjadinya kejahatan dan bahkan dapat mewujudkan keamanan nasional dari gangguan kejahatan.

Mengingat Imigrasi menjadi ujung tombak dan garda terdepan dalam pengawasan lalu lintas orang yang keluar dan masuk ke wilayah negara dimanapun di dunia, maka Imigrasi menjadi prioritas INTERPOL dalam menanggulangi kejahatan transnasional di wilayah perbatasan, dengan program INTERPOL Border Management Program (IBMP). Program INTERPOL ini sejalan dengan program Direktorat Jenderal Imigrasi Indonesia yang sedang menjalankan program peningkatan keamanan di wilayah perbatasan. (DHI)

alt

alt

 

 
Konferensi ASEANAPOL Ke-36 Kuala Lumpur, Malaysia, 24-29 Juli 2016
Rabu, 03 Agustus 2016 21:56    PDF Print E-mail

alt

Konferensi ASEANAPOL 2016 merupakan penyelenggaraan yang ke 36 dengan dihadiri oleh 260 (dua ratus enampuluh) peserta berasal dari 10 (sepuluh) negara anggota ASEAN dan Sekretariat ASEANAPOL, 9 (sembilan) Mitra Dialog/Dialogue Partners (Australia, China, Jepang, Korea, Selandia Baru, Rusia,Turki, Sekretariat ASEAN, ICPO-INTERPOL) dan 5 (lima) Peninjau/Observer (Timor Leste, United Kingdom, EUROPOL, ASEAN-WEN, ICRC). Konferensi ASEANAPOL ke-36 dibuka secara resmi oleh Perdana Menteri Malaysia, Dato’ Sri Haji Mohammad Najib bin Tun Haji Abdul Rajak pada tanggal 26 Juli 2016. Delegasi Polri dipimpin oleh Irwasum Polri, Komjen Pol Drs. Dwi Priyatno sebagai Head of Delegation dan Kadivhubinter Polri, Irjen Pol Drs. Ketut Untung Yoga S.H.,MM., sebagai Deputy Head of delegation dengan mengikutsertakan 30 (tigapuluh) personil sebagai Delegasi Polri. Konferensi berlangsung dari tanggal 24-29 Juli 2016 dan mengambil tempat di Hotel Marriot Putera Jaya, Kuala Lumpur.

Sebagai ouput penyelenggaraan, Konferensi ASEANAPOL ke-36 menghasilkan Joint Communique dengan substansi pokok yaitu kerja sama di bidang penanggulangan kejahatan lintas negara dan pembangunan kapasitas sebanyak 51 (limapuluh satu) kesepakatan yang meliputi: Illicit Drugs Trafficking, Terrorism, Arms Smuggling, Human Trafficking, Wildlife Crime, Maritime Fraud, Commercial Crime, Bank Offences and Credit Card Fraud, Cyber Crime, Fraudulent Travel Documents, Transnational Fraud, Progress on Electronic ASEANAPOL Database System (e-ADS), Mutual Assistance in Criminal Matters dan Exchange of Personnel and Training Programmes amongst ASEAN Police Forces. Selain komitmen kerjasama antar kepolisian ASEAN, konferensi juga menyetujui dan mengesahkan beberapa kesepakatan terkait rencana kerja ASEANAPOL Sekretariat seperti : menyetujui dan mengesahkan Police Superintendent Aidah Binti Othman dari Royal Malaysian Police sebagai Director for Police Plans and Programmes of ASEANAPOL Secretariat untuk tahun 2016 – 2017; menyetujui untuk memberikan mandat kepada Executive Director of ASEANAPOL Secretariat untuk menandatangani Letter of Intent (LoI) on Cooperation between EUROPOL and ASEANAPOL; menyetujui proposal Vietnam untuk mengadakan the 1st ASEAN Traffic Police Forum, dll.

Dalam konferensi tersebut Indonesia dalam hal ini POLRI berhasil menyampaikan usulan terkait upgrade e-ADS yaitu pada pelaksanaan upgrade e-ADS untuk dapat memanfaatkan system yang telah ada namun dikelola oleh ASEANAPOL Sekretariat, serta pembayaran iuran perawatan dan penggunaan e-ADS dapat disatukan dengan iuran tahunan ASEANAPOL.

Disamping melaksanakan konferensi, Ketua Delegasi Polri juga melaksanakan beberapa pertemuan bilateral dengan beberapa ketua delegasi lain yaitu: POLRI – Ministry Public Security of China, POLRI – INTERPOL, dan POLRI-New Zealand Police.

Selain kegiatan utama berupa pertemuan formil, ASEANAPOL juga menyelenggarakan Turnamen Golf sebagai bagian dari kegiatan ASEANAPOL Conference, Tim Polri berhasil mempertahankan Juara Umum Turnamen Golf ASEANAPOL Conference 2016. Untuk perorangan Tim POLRI menempatkan AKP Dodin Awaludin sebagai juara 2 dan KBP Lilik Heri Setiadi sebagai Juara 3. Untuk juara 1 perorangan dimenangkan golfer dari Myanmar. Sebagai pelengkap Aiptu Rudi Trenggani juga mendapatkan Trophy katagori Longest Drive dengan pukulan sejauh 265 Meter. Secara keseluruhan Tim Polri membawa kembali 4 (empat) buah trophy.

ASEANAPOL berikutnya akan diselenggarakan di Singapura pada bulan Juli 2017 dan Kepolisian Singapura akan menjadi tuan rumah. (DHI)

alt

 
16th Senior Official Meeting on Transnational Crime (SOMTC)
Selasa, 24 Mei 2016 21:12    PDF Print E-mail

alt

Indonesia tahun ini kembali menjadi tuan rumah penyelenggaraan Senior Official Meeting on Transnational Crime (SOMTC) setelah 10 tahun lalu 2006 menjadi tuan rumah SOMTC ke 6. SOMTC tahun ini merupakan pertemuan ke 16 yang akan dilaksanakan selama 5 hari dari tanggal 22 sampai dengan 27 Mei 2016 di Jakarta.

Pertemuan ini dihadiri lebih dari 190 peserta dari perwakilan 10 negara ASEAN dan 10 negara mitra dialog yaitu China, Jepang, Korea Selatan, Australia, Uni Eropa, Canada, New Zealand, Rusia dan Amerika Serikat.

Pertemuan ini bertujuan untuk meningkatkan kerja sama dalam penanggulangan kejahatan transnational dengan meningkatkan keamanan wilayah perbatasan di kawasan ASEAN dari kejahatan-kejahatan seperti: terrorism, illicit drug trafficking, people smuggling, perdagangan gelap narkoba, arms smuggling, sea piracy, illegal fishing, illegal goods, dan trafficking in wildlife and timber.

Tahun ini merupakan tahun pertama "ASEAN Community" yang terdiri dari 3 pilar yaitu ASEAN Political Security Community, ASEAN Economic Community dan ASEAN Social Cultural Community yang saling berkaitan satu sama lain. Ketiga pilar ini menyatukan negara anggota ASEAN dalam satu kesatuan yang terintegrasi dan terhubung.

Pertemuan ini dibuka secara resmi oleh Kapolri, Jenderal Polisi Badrodin Haiti pada hari ini tanggal 24 Mei 2016 pukul 09.00 wib di Flores Balroom Hotel Borobudur, Jakarta.

Pada Sambutannya Kapolri menyampaikan bahwa wilayah perbatasan mempunyai peran penting dalam menjaga keamanan dan stabilitas suatu negara yang tentunya juga keamanan kawasan. Pengawasan perbatasan bukan hanya tanggung jawab suatu negara dan memerlukan quick response dalam menanganinya. Seperti halnya terorisme yang bukan hanya merupakan ancaman besar bagi suatu negara, tapi sudah menjadi ancaman bagi kawasan dan dunia.

"SOMTC merupakan forum strategis untuk mencari cara dan rumusan terbaik dalam menanggulangi perkembangan yang cepat dari kejahatan transnasional," lanjut Jenderal Badrodin Haiti.

alt

 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 71