Minggu, 28 Agustus 2016
Indonesia (Bahasa Indonesia)English (United Kingdom)
Berita
Konferensi ASEANAPOL Ke-36 Kuala Lumpur, Malaysia, 24-29 Juli 2016
Rabu, 03 Agustus 2016 21:56    PDF Print E-mail

alt

Konferensi ASEANAPOL 2016 merupakan penyelenggaraan yang ke 36 dengan dihadiri oleh 260 (dua ratus enampuluh) peserta berasal dari 10 (sepuluh) negara anggota ASEAN dan Sekretariat ASEANAPOL, 9 (sembilan) Mitra Dialog/Dialogue Partners (Australia, China, Jepang, Korea, Selandia Baru, Rusia,Turki, Sekretariat ASEAN, ICPO-INTERPOL) dan 5 (lima) Peninjau/Observer (Timor Leste, United Kingdom, EUROPOL, ASEAN-WEN, ICRC). Konferensi ASEANAPOL ke-36 dibuka secara resmi oleh Perdana Menteri Malaysia, Dato’ Sri Haji Mohammad Najib bin Tun Haji Abdul Rajak pada tanggal 26 Juli 2016. Delegasi Polri dipimpin oleh Irwasum Polri, Komjen Pol Drs. Dwi Priyatno sebagai Head of Delegation dan Kadivhubinter Polri, Irjen Pol Drs. Ketut Untung Yoga S.H.,MM., sebagai Deputy Head of delegation dengan mengikutsertakan 30 (tigapuluh) personil sebagai Delegasi Polri. Konferensi berlangsung dari tanggal 24-29 Juli 2016 dan mengambil tempat di Hotel Marriot Putera Jaya, Kuala Lumpur.

Sebagai ouput penyelenggaraan, Konferensi ASEANAPOL ke-36 menghasilkan Joint Communique dengan substansi pokok yaitu kerja sama di bidang penanggulangan kejahatan lintas negara dan pembangunan kapasitas sebanyak 51 (limapuluh satu) kesepakatan yang meliputi: Illicit Drugs Trafficking, Terrorism, Arms Smuggling, Human Trafficking, Wildlife Crime, Maritime Fraud, Commercial Crime, Bank Offences and Credit Card Fraud, Cyber Crime, Fraudulent Travel Documents, Transnational Fraud, Progress on Electronic ASEANAPOL Database System (e-ADS), Mutual Assistance in Criminal Matters dan Exchange of Personnel and Training Programmes amongst ASEAN Police Forces. Selain komitmen kerjasama antar kepolisian ASEAN, konferensi juga menyetujui dan mengesahkan beberapa kesepakatan terkait rencana kerja ASEANAPOL Sekretariat seperti : menyetujui dan mengesahkan Police Superintendent Aidah Binti Othman dari Royal Malaysian Police sebagai Director for Police Plans and Programmes of ASEANAPOL Secretariat untuk tahun 2016 – 2017; menyetujui untuk memberikan mandat kepada Executive Director of ASEANAPOL Secretariat untuk menandatangani Letter of Intent (LoI) on Cooperation between EUROPOL and ASEANAPOL; menyetujui proposal Vietnam untuk mengadakan the 1st ASEAN Traffic Police Forum, dll.

Dalam konferensi tersebut Indonesia dalam hal ini POLRI berhasil menyampaikan usulan terkait upgrade e-ADS yaitu pada pelaksanaan upgrade e-ADS untuk dapat memanfaatkan system yang telah ada namun dikelola oleh ASEANAPOL Sekretariat, serta pembayaran iuran perawatan dan penggunaan e-ADS dapat disatukan dengan iuran tahunan ASEANAPOL.

Disamping melaksanakan konferensi, Ketua Delegasi Polri juga melaksanakan beberapa pertemuan bilateral dengan beberapa ketua delegasi lain yaitu: POLRI – Ministry Public Security of China, POLRI – INTERPOL, dan POLRI-New Zealand Police.

Selain kegiatan utama berupa pertemuan formil, ASEANAPOL juga menyelenggarakan Turnamen Golf sebagai bagian dari kegiatan ASEANAPOL Conference, Tim Polri berhasil mempertahankan Juara Umum Turnamen Golf ASEANAPOL Conference 2016. Untuk perorangan Tim POLRI menempatkan AKP Dodin Awaludin sebagai juara 2 dan KBP Lilik Heri Setiadi sebagai Juara 3. Untuk juara 1 perorangan dimenangkan golfer dari Myanmar. Sebagai pelengkap Aiptu Rudi Trenggani juga mendapatkan Trophy katagori Longest Drive dengan pukulan sejauh 265 Meter. Secara keseluruhan Tim Polri membawa kembali 4 (empat) buah trophy.

ASEANAPOL berikutnya akan diselenggarakan di Singapura pada bulan Juli 2017 dan Kepolisian Singapura akan menjadi tuan rumah. (DHI)

alt

 
16th Senior Official Meeting on Transnational Crime (SOMTC)
Selasa, 24 Mei 2016 21:12    PDF Print E-mail

alt

Indonesia tahun ini kembali menjadi tuan rumah penyelenggaraan Senior Official Meeting on Transnational Crime (SOMTC) setelah 10 tahun lalu 2006 menjadi tuan rumah SOMTC ke 6. SOMTC tahun ini merupakan pertemuan ke 16 yang akan dilaksanakan selama 5 hari dari tanggal 22 sampai dengan 27 Mei 2016 di Jakarta.

Pertemuan ini dihadiri lebih dari 190 peserta dari perwakilan 10 negara ASEAN dan 10 negara mitra dialog yaitu China, Jepang, Korea Selatan, Australia, Uni Eropa, Canada, New Zealand, Rusia dan Amerika Serikat.

Pertemuan ini bertujuan untuk meningkatkan kerja sama dalam penanggulangan kejahatan transnational dengan meningkatkan keamanan wilayah perbatasan di kawasan ASEAN dari kejahatan-kejahatan seperti: terrorism, illicit drug trafficking, people smuggling, perdagangan gelap narkoba, arms smuggling, sea piracy, illegal fishing, illegal goods, dan trafficking in wildlife and timber.

Tahun ini merupakan tahun pertama "ASEAN Community" yang terdiri dari 3 pilar yaitu ASEAN Political Security Community, ASEAN Economic Community dan ASEAN Social Cultural Community yang saling berkaitan satu sama lain. Ketiga pilar ini menyatukan negara anggota ASEAN dalam satu kesatuan yang terintegrasi dan terhubung.

Pertemuan ini dibuka secara resmi oleh Kapolri, Jenderal Polisi Badrodin Haiti pada hari ini tanggal 24 Mei 2016 pukul 09.00 wib di Flores Balroom Hotel Borobudur, Jakarta.

Pada Sambutannya Kapolri menyampaikan bahwa wilayah perbatasan mempunyai peran penting dalam menjaga keamanan dan stabilitas suatu negara yang tentunya juga keamanan kawasan. Pengawasan perbatasan bukan hanya tanggung jawab suatu negara dan memerlukan quick response dalam menanganinya. Seperti halnya terorisme yang bukan hanya merupakan ancaman besar bagi suatu negara, tapi sudah menjadi ancaman bagi kawasan dan dunia.

"SOMTC merupakan forum strategis untuk mencari cara dan rumusan terbaik dalam menanggulangi perkembangan yang cepat dari kejahatan transnasional," lanjut Jenderal Badrodin Haiti.

alt

 
Operasi perbatasan INTERPOL di Asia Tenggara dengan target pelaku teror
Kamis, 28 April 2016 13:42    PDF Print E-mail

alt

Meningkatkan penanggulangan terorisme dan kerjasama penegakan hukum menjadi fokus dari operasi perbatasan yang difasilitasi INTERPOL dengan sasaran para buronan internasional yang sedang melakukan perjalanan melintasi negara-negara kawasan Asia Tenggara (ASEAN).

Selama Operasi Sunbird II (28 Maret - 8 April), instansi penegak hukum terkait seperti kepolisian, imigrasi dan otoritas maritim di 10 negara anggota ASEAN melakukan identifikasi para pelaku teror dan kriminal lain, dengan melakukan pengecekan paspor di 30 pos-pos perbatsan darat, laut dan udara melalui database INTERPOL.

Sekitar lima juta pencarian dilakukan selama operasi, dimana berhasil dilakukan tujuh penangkapan dan hampir 100 'hits' - termasuk disitanya 71 paspor yang digunakan secara ilegal dari paspor yang dinyatakan hilang pada database stolen and lost travel document (SLTD) INTERPOL.

Tujuh orang DPO internasional dan dua orang yang ditargetkan oleh sanksi Dewan Keamanan PBB serta menjadi subjek INTERPOL-UN Special Notice juga terdeteksi di kawasan ini.

Sebagai bagian dari program Capacity Building and Training (CBT) INTERPOL yang didanai oleh Pemerintah Kanada, operasi ini dikoordinasikan dari INTERPOL Global Complex for Innovation (IGCI) di Singapura di bawah naungan Integrated Border Management Task Force (IBMTF) INTERPOL bekerjasama dengan negara-negara ASEAN dan ASEANAPOL.

Operasi ini didukung dengan berbagai kemampuan kepolisian global INTERPOL, diantaranya manajemen data Kepolisian, forensik, analisis kriminal, investigasi buronan, pusat komando dan koordinasi, serta pengembangan kapasitas dan pelatihan.

Unit Counter-Terrorism menyediakan bantuan informasi dan menindaklanjuti dugaan adanya perjalanan Foreign Terrorist Fighters di dalam maupun luar kawasan Asia Tenggara menuju kawasan konflik.

“Beberapa tahun terakhir telah menjadi tonggak penting dalam hubungan INTERPOL dan ASEANAPOL, terutama dalam kerjasama pengembangan kapasitas dan pelatihan serta operasi lintas-batas bersama dalam menangani kejahatan transnasional, "kata Ferdinand Bartolome, Director of Police Services ASEANAPOL. "Perkembangan ini menggarisbawahi kemitraan abadi antara kedua organisasi, bekerjasama menuju tujuan bersama untuk menjamin perdamaian dan kemakmuran bagi semua .”

Michael O’Connell, Director of Operational Support and Analysis INTERPOL, mengatakan: "Operasi Sunbird II menekankan bagaimana keamanan internal dan internasional tergantung pada penguatan pos-pos perbatasan untuk mencegah individu yang berbahaya bepergian. Dalam hal ini menunjukan pentingnya untuk memupuk kerjasama antar instansi, antara semua lembaga penegak hukum terkait, untuk terlibat dalam keamanan perbatasan di darat dan di laut, di seluruh wilayah.”

“Operasi gabungan beberapa proyek Counter-Terrorism INTERPOL, termasuk salah satu yang menargetkan Sanksi PBB, berusaha untuk memaksimalkan penggunaan kemampuan kepolisian INTERPOL untuk kerjasama antar lembaga dan regional, "kata Kiho Cha, Senior Political Affairs Officer with the UN Security Council Subsidiary Organs Branch.

“Kerjasama antara INTERPOL dan PBB telah membuktikan efisiensi dan nilai tambah demi perdamaian dan keamanan global. Masa depan dan kelangsungannya memerlukan partisipasi aktif dari negara-negara anggota dan pertukaran informasi antara NCB INTERPOL dengan Komisi Khusus PBB terkait, "tambah Mr Cha.

Dengan operasi yang merepresentasikan kulminasi dari keahlian dan pengetahuan yang dikembangkan selama rangkaian aktivitas peningkatan kapasitas bagi penegakan hukum di wilayah tersebut sejak Mei 2015, Direktur CBT INTERPOL, Julia Viedma, mengatakan: "Dengan menyatukan para pelaku di seluruh komunitas penegakan hukum termasuk pengambil keputusan, peneliti, ahli forensik, petugas imigrasi serta NCB, maka operasi Sunbird II menunjukkan nilai operasional yang nyata dari peningkatan kapasitas dan pelatihan untuk membuat perubahan praktis di lapangan.

Sejak 2013, ASEAN Senior Officials Meeting on Transnational Crime (SOMTC) telah secara konsisten mendukung INTERPOL dalam penyampaian program pengembangan kapasitas di Asia Tenggara.

“Melalui kelanjutan dari kemitraan kami akan memungkinkan untuk melakukan inisiatif bersama baru dalam memerangi terorisme, cybercrime, pembajakan dan jenis-jenis kejahatan terorganisir lain yang terjadi di kawasan ini, "kata Sieng Lapresse, Penasehat Pemerintah, Kementerian Dalam Negeri Kamboja dan Ketua SOMTC saat ini.

Lembaga mitra terdiri dari: NCB INTERPOL dari negara ASEAN, lembaga penegak hukum di negara ASEAN member yang meliputi: imigrasi, kepolisian, otoritas maritim, ASEANAPOL dan Royal Canadian Mounted Police (RCMP).

10 negara ASEAN adalah: Brunei, Cambodia, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Philippines, Singapore, Thailand dan Vietnam.

(Sumber: INTERPOL)

 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 71