Senin, 30 Mei 2016
Indonesia (Bahasa Indonesia)English (United Kingdom)
Berita
16th Senior Official Meeting on Transnational Crime (SOMTC)
Selasa, 24 Mei 2016 21:12    PDF Print E-mail

alt

Indonesia tahun ini kembali menjadi tuan rumah penyelenggaraan Senior Official Meeting on Transnational Crime (SOMTC) setelah 10 tahun lalu 2006 menjadi tuan rumah SOMTC ke 6. SOMTC tahun ini merupakan pertemuan ke 16 yang akan dilaksanakan selama 5 hari dari tanggal 22 sampai dengan 27 Mei 2016 di Jakarta.

Pertemuan ini dihadiri lebih dari 190 peserta dari perwakilan 10 negara ASEAN dan 10 negara mitra dialog yaitu China, Jepang, Korea Selatan, Australia, Uni Eropa, Canada, New Zealand, Rusia dan Amerika Serikat.

Pertemuan ini bertujuan untuk meningkatkan kerja sama dalam penanggulangan kejahatan transnational dengan meningkatkan keamanan wilayah perbatasan di kawasan ASEAN dari kejahatan-kejahatan seperti: terrorism, illicit drug trafficking, people smuggling, perdagangan gelap narkoba, arms smuggling, sea piracy, illegal fishing, illegal goods, dan trafficking in wildlife and timber.

Tahun ini merupakan tahun pertama "ASEAN Community" yang terdiri dari 3 pilar yaitu ASEAN Political Security Community, ASEAN Economic Community dan ASEAN Social Cultural Community yang saling berkaitan satu sama lain. Ketiga pilar ini menyatukan negara anggota ASEAN dalam satu kesatuan yang terintegrasi dan terhubung.

Pertemuan ini dibuka secara resmi oleh Kapolri, Jenderal Polisi Badrodin Haiti pada hari ini tanggal 24 Mei 2016 pukul 09.00 wib di Flores Balroom Hotel Borobudur, Jakarta.

Pada Sambutannya Kapolri menyampaikan bahwa wilayah perbatasan mempunyai peran penting dalam menjaga keamanan dan stabilitas suatu negara yang tentunya juga keamanan kawasan. Pengawasan perbatasan bukan hanya tanggung jawab suatu negara dan memerlukan quick response dalam menanganinya. Seperti halnya terorisme yang bukan hanya merupakan ancaman besar bagi suatu negara, tapi sudah menjadi ancaman bagi kawasan dan dunia.

"SOMTC merupakan forum strategis untuk mencari cara dan rumusan terbaik dalam menanggulangi perkembangan yang cepat dari kejahatan transnasional," lanjut Jenderal Badrodin Haiti.

alt

 
Operasi perbatasan INTERPOL di Asia Tenggara dengan target pelaku teror
Kamis, 28 April 2016 13:42    PDF Print E-mail

alt

Meningkatkan penanggulangan terorisme dan kerjasama penegakan hukum menjadi fokus dari operasi perbatasan yang difasilitasi INTERPOL dengan sasaran para buronan internasional yang sedang melakukan perjalanan melintasi negara-negara kawasan Asia Tenggara (ASEAN).

Selama Operasi Sunbird II (28 Maret - 8 April), instansi penegak hukum terkait seperti kepolisian, imigrasi dan otoritas maritim di 10 negara anggota ASEAN melakukan identifikasi para pelaku teror dan kriminal lain, dengan melakukan pengecekan paspor di 30 pos-pos perbatsan darat, laut dan udara melalui database INTERPOL.

Sekitar lima juta pencarian dilakukan selama operasi, dimana berhasil dilakukan tujuh penangkapan dan hampir 100 'hits' - termasuk disitanya 71 paspor yang digunakan secara ilegal dari paspor yang dinyatakan hilang pada database stolen and lost travel document (SLTD) INTERPOL.

Tujuh orang DPO internasional dan dua orang yang ditargetkan oleh sanksi Dewan Keamanan PBB serta menjadi subjek INTERPOL-UN Special Notice juga terdeteksi di kawasan ini.

Sebagai bagian dari program Capacity Building and Training (CBT) INTERPOL yang didanai oleh Pemerintah Kanada, operasi ini dikoordinasikan dari INTERPOL Global Complex for Innovation (IGCI) di Singapura di bawah naungan Integrated Border Management Task Force (IBMTF) INTERPOL bekerjasama dengan negara-negara ASEAN dan ASEANAPOL.

Operasi ini didukung dengan berbagai kemampuan kepolisian global INTERPOL, diantaranya manajemen data Kepolisian, forensik, analisis kriminal, investigasi buronan, pusat komando dan koordinasi, serta pengembangan kapasitas dan pelatihan.

Unit Counter-Terrorism menyediakan bantuan informasi dan menindaklanjuti dugaan adanya perjalanan Foreign Terrorist Fighters di dalam maupun luar kawasan Asia Tenggara menuju kawasan konflik.

“Beberapa tahun terakhir telah menjadi tonggak penting dalam hubungan INTERPOL dan ASEANAPOL, terutama dalam kerjasama pengembangan kapasitas dan pelatihan serta operasi lintas-batas bersama dalam menangani kejahatan transnasional, "kata Ferdinand Bartolome, Director of Police Services ASEANAPOL. "Perkembangan ini menggarisbawahi kemitraan abadi antara kedua organisasi, bekerjasama menuju tujuan bersama untuk menjamin perdamaian dan kemakmuran bagi semua .”

Michael O’Connell, Director of Operational Support and Analysis INTERPOL, mengatakan: "Operasi Sunbird II menekankan bagaimana keamanan internal dan internasional tergantung pada penguatan pos-pos perbatasan untuk mencegah individu yang berbahaya bepergian. Dalam hal ini menunjukan pentingnya untuk memupuk kerjasama antar instansi, antara semua lembaga penegak hukum terkait, untuk terlibat dalam keamanan perbatasan di darat dan di laut, di seluruh wilayah.”

“Operasi gabungan beberapa proyek Counter-Terrorism INTERPOL, termasuk salah satu yang menargetkan Sanksi PBB, berusaha untuk memaksimalkan penggunaan kemampuan kepolisian INTERPOL untuk kerjasama antar lembaga dan regional, "kata Kiho Cha, Senior Political Affairs Officer with the UN Security Council Subsidiary Organs Branch.

“Kerjasama antara INTERPOL dan PBB telah membuktikan efisiensi dan nilai tambah demi perdamaian dan keamanan global. Masa depan dan kelangsungannya memerlukan partisipasi aktif dari negara-negara anggota dan pertukaran informasi antara NCB INTERPOL dengan Komisi Khusus PBB terkait, "tambah Mr Cha.

Dengan operasi yang merepresentasikan kulminasi dari keahlian dan pengetahuan yang dikembangkan selama rangkaian aktivitas peningkatan kapasitas bagi penegakan hukum di wilayah tersebut sejak Mei 2015, Direktur CBT INTERPOL, Julia Viedma, mengatakan: "Dengan menyatukan para pelaku di seluruh komunitas penegakan hukum termasuk pengambil keputusan, peneliti, ahli forensik, petugas imigrasi serta NCB, maka operasi Sunbird II menunjukkan nilai operasional yang nyata dari peningkatan kapasitas dan pelatihan untuk membuat perubahan praktis di lapangan.

Sejak 2013, ASEAN Senior Officials Meeting on Transnational Crime (SOMTC) telah secara konsisten mendukung INTERPOL dalam penyampaian program pengembangan kapasitas di Asia Tenggara.

“Melalui kelanjutan dari kemitraan kami akan memungkinkan untuk melakukan inisiatif bersama baru dalam memerangi terorisme, cybercrime, pembajakan dan jenis-jenis kejahatan terorganisir lain yang terjadi di kawasan ini, "kata Sieng Lapresse, Penasehat Pemerintah, Kementerian Dalam Negeri Kamboja dan Ketua SOMTC saat ini.

Lembaga mitra terdiri dari: NCB INTERPOL dari negara ASEAN, lembaga penegak hukum di negara ASEAN member yang meliputi: imigrasi, kepolisian, otoritas maritim, ASEANAPOL dan Royal Canadian Mounted Police (RCMP).

10 negara ASEAN adalah: Brunei, Cambodia, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Philippines, Singapore, Thailand dan Vietnam.

(Sumber: INTERPOL)

 
Polri tingkatkan peran dalam Forum Regional dengan mengangkat Brigjen Pol Yohanes Agus Mulyono sebagai Executive Director Sekretariat Aseanapol
Jumat, 15 Januari 2016 15:53    PDF Print E-mail

alt

Dalam rangka meningkatkan peran Polri dalam kerja sama internasional maupun regional, khususnya Aseanapol yaitu suatu wadah kerja sama kepolisian negara-negara ASEAN, Polri telah menunjuk Brigjen Pol Yohanes Agus Mulyono untuk menjadi Executive Director Sekretariat ASEANAPOL untuk periode 2016-2017.

Pelantikan dan serah terima jabatan Brigjen Agus dilaksanakan pada tanggal 13 Januari 2016 di Kuala Lumpur, Malaysia, yang dihadiri oleh Kapolri, Jenderal Pol Badrodin Haiti.

Pejabat sebelumnya yaitu SAC Pg. Dato Paduka Hj. Abdul Wahab B. Pg Hj. Omar dari Brunei Darussalam, telah menjabat selama 2 tahun dari tahun 2014-2015. Pejabat Executive Director yang pertama kali adalah ACP Mohd Nadzri bin Zainal Abidin dari Malaysia untuk periode 2010-2011 dan Letjen Sar Molin dari Kamboja untuk periode 2012-2013. Dengan demikian Brigjen Agus merupakan pejabat Executive Director yang keempat sejak pendirian Sekretariat Aseanapol tahun 2010.

Pada kesempatan serah terima jabatan Executive Director ini, juga dilaksanakan serahterima Director Police Service dari ACP Mohamad Anil Shah Bin Abdullah dari Kepolisian Malaysia yang sudah habis masa jabatannya (2014-2015) kepada Senior Superintendent Ferdinand Realtor Piedad Bartolome, dari Kepolisian Philipina (2016-2017).

Forum ASEANAPOL sudah berdiri sejak tahun 1981 atas prakarsa dari para Kepolisian 5 (lima) negara ASEAN yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand. Sampai dengan tahun 2000 dengan masuknya Myanmar menjadi anggota, maka Aseanapol telah mempunyai 10 negara anggota sebagaimana keanggotaan dalam forum ASEAN. Sejak pembentukannya sampai tahun 2009, forum ini belum mempunyai organisasi kelembagaan/ kesekretariatan yang mengelola segala aktivitas administrasi forum ini.

Ide pembentukan Sekretariat Aseanapol baru tercetus pada Konferensi Aseanapol ke 25 tahun 2005 di Bali. Melalui berbagai pembahasan akhirnya organisasi Aseanapol terbentuk sebagai organisasi regional dengan berdirinya Sekretariat Aseanapol yang mulai beroperasi pada tanggal 1 Januari 2010. Organisasi ini dikelola oleh seorang Executive Director yang dibantu oleh 2 direktur yaitu Direktur Police Services dan Direktur Program dan Perencanaan.

alt

alt

 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 70