Monday, 28 July 2014
Indonesia (Bahasa Indonesia)English (United Kingdom)
Indonesia Pasar Potensial Sabu-Ekstasi
Monday, 27 September 2010 10:11    PDF Print E-mail
There are no translations available.

Penyelundupan narkoba jenis ekstasi atau amphetamine dan sabu atau methamphetamine ke Indonesia makin agresif pada tahun-tahun belakangan. Di samping penduduknya yang banyak, Indonesia menjadi pasar yang potensial karena banyaknya pintu penyelundupan dan besarnya margin harga.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Gories Mere dalam jumpa pers di Kota Batam, Kepulauan Riau, Selasa (21/9/2010), menyatakan, ekstasi dan sabu menjadi jenis narkoba yang tren dipasarkan ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Barang tersebut sebagian besar diproduksi di China, Hongkong, India, dan Iran. Sebagian lagi diproduksi di dalam negeri.

Adapun rute penyelundupan dilakukan secara berantai. Antara lain mengambil jalur Kamboja, Thailand, dan Malaysia.

Pada akhir tahun 2009 sampai dengan awal semester I tahun ini, penyelundup sabu dan ekstasi yang tertangkap di Indonesia, mayoritas warga negara Iran. Di negara asalnya, mereka antara lain bekerja sebagai sopir taksi, buruh, mahasiswa, dan pedagang pakaian.

Indonesia, menurut Gories, menjadi pasar yang menggiurkan karena margin harga sangat besar. Dari hasil kunjungannya ke Iran pada awal tahun ini, diketahui harga sabu di negara itu Rp 100 juta per kilogram (kg). Bahkan terakhir, harganya turun menjadi Rp 50 juta per kg. Sementara di Indonesia, harganya Rp 2 miliar per kg.

Di Iran sendiri , ancaman hukuman terhadap pelaku peredaran narkoba relatif ringan, kata Gories.

Pada kesempatan yang sama, Direktur IV Narkoba dan Kejahatan Terorganisasi Mabes Polri, Arman Depari, menyatakan, ekstasi dan sabu saat ini menjadi perhatian utama polisi dalam hal narkoba. Di samping itu ada tren baru, yakni jenis chetamine.

Indonesia, menurut Arman, rawan diselundupi barang terlarang tersebut karena memiliki garis pantai yang panjang sehingga menjadi pintu masuk yang potensial. Sementara pengamanan belum memadahi.

"Kita semua tahu, pengamanan garis pantai yang sedemikian panjang di Indonesia masih lemah. Jadi kondisi itu rawan diselundupi," kata Arman.

Berdasarkan penelitian BNN dan Universitas Indonesia pada 2008, jumlah pengguna narkoba di Indonesia sebanyak 3,6 juta atau 1,99 persen dari total penduduk Indonesia. Sebagian besar di kota-kota besar.

Sementara itu, BNN dan United States Drug Enforcement Administration (US-DEA) menggelar International Drug Enforcement Conference (IDEC) Far East Working Group d i salah satu resort di Kota Batam, 21-22 September. Delegasi dari 18 negara di kawasan Timur Jauh hadir dalam kesempatan itu.

Direktur Regional DEA Timur Jauh, Thomas Pasquarello dalam sambutannya mengatakan, perdagangan narkoba akhir-akhir ini mengalami perkembangan. Dengan demikian, perlu diidentifikasi perubahan-perubahan yang terjadi mulai dari distribusi sampai lalu-lintas pencucian uang yang dihasilkannya.

"Perdagangan narkoba tidak bisa tidak harus diperangi secara bersama-sama karena ini melibatkan sindikasi internasional," kata Thomas.

(Sumber: Kompas.com)