Thursday, 23 October 2014
Indonesia (Bahasa Indonesia)English (United Kingdom)
Pemulangan Sherny Kojongian, Buronan INTERPOL Dalam Kasus Korupsi Bank Harapan Sentosa
Thursday, 14 June 2012 07:38    PDF Print E-mail
There are no translations available.

Kasus korupsi di Bank  Harapan Sentosa (BHS) dengan tersangka atas nama Hendra Rahardja, Sherny Kojongian dan Eko Edi Putranto  yang terjadi antara tahun 1992-1996 telah mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp 1.950.995.354.200. (Satu Trilyun Sembilan Ratus Lima Puluh Milyar Sembilan Ratus Sembilan Puluh Lima Juta Tiga Ratus Lima Puluh Empat Ribu Dua Ratus Rupiah). Meskipun para tersangka telah melarikan diri ke luar negeri, secara in absentia  Pengadilan Negeri Jakarta Pusat  melalui putusan Nomor : 1032/PID.B/2001/PN.JKT.PST tanggal 18 Maret 2002 menghukum para  terdakwa :

a.  Terdakwa I Hendra Rahardja dengan pidana penjara seumur hidup

b.  Terdakwa II  Eko Edi Putranto dengan pidana penjara 20 tahun

c.  Terdakwa III Sherny Kojongian dengan pidana penjara 20 tahun.

d. Para terdakwa secara tanggung renteng membayar uang pengganti sebesar Rp 1.950.995.354.200 (Satu Trilyun Sembilan Ratus Lima Puluh Milyar Sembilan Ratus Sembilan Puluh Lima Juta Tiga Ratus Lima Puluh Empat Ribu Dua Ratus Rupiah)

 

Dalam peradilan tingkat banding, Pengadilan Tinggi DKI melalui putusan nomor : 125/PID/2002/PT.DKI tanggal 8 November 2002 menguatkan putusan PN Jakarta Pusat tersebut. Namun JPU tidak dapat mengeksekusi putusan PT DKI karena ketiga terpidana telah melarikan diri ke luar negeri.

Terpidana Hendra Rahardja telah tertangkap di Australia pada tahun 2000. Pemerintah Australia mengabulkan permintaan ekstradisi pemerintah RI terhadap Hendra Rahardja namun meninggal dunia pada tahun 2002 sebelum ekstradisi dilaksanakan.

Sherny Kojongian dan Eko Edi Putranto menjadi target Tim Terpadu Pencari Tersangka dan Terpidana Tindak Pidana Korupsi yang diketuai oleh Wakil Jaksa Agung dengan anggota perwakilan dari Kemenkopolhukam, Kemlu, Kemkum dan HAM, PPATK, Kejagung, dan Polri (Bareskrim dan Divhubinter/ NCB-Interpol Indonesia). Kedua terpidana telah dikeluarkan Red Notice oleh ICPO-INTERPOL di Lyon, Perancis Nomor Kontrol A-2490/11-2006 tanggal 22 November 2006 atas permintaan NCB-INTERPOL Indonesia.

Pada tanggal 10 Agustus 2009, INTERPOL Washington DC menginformasikan ke INTERPOL Jakarta bahwa otoritas di AS mengidentifikasi keberadaan seorang WNI yang memiliki identitas mirip buronan INTERPOL Jakarta a.n. Sherny Kojongian subyek Red Notice INTERPOL. 

Sherny Kojongian ditahan oleh Enforcement and Removal Operation (ERO) U.S Immigration and Custom Enforcement (ICE) U.S Department of Homeland Security (DHS) di San Fransisco pada tanggal 16 November 2010. Namun yang bersangkutan diberi kesempatan untuk mengajukan penangguhan penahanan dengan jaminan selama menunggu persidangan.

Dalam sidang deportasi, Hakim memutuskan bahwa Sherny Kojongian dideportasi ke Indonesia. Namun yang bersangkutan mengajukan banding atas putusan tersebut. Selama proses banding, yang bersangkutan tetap dalam penahanan ICE. Dalam sidang banding, Ninth Circuit Court of Appeal setelah menolak banding yang diajukan oleh pihak Sherny Sahora alias Sherny Kojongian. Oleh karena itu yang bersangkutan harus dideportasi ke negara asal yaitu Indonesia.

Pada tanggal 11 Juni 2012, Sherny Kojongian telah dideportasi dari San Fransisco ke Jakarta dengan dikawal 2 (dua) petugas Enforcement and Removal Operation (ERO) U.S Immigration and Custom Enforcement (ICE) U.S Department of Homeland Security (DHS) bersama dengan Atase Polri/SLO di Washington DC, Brigjen Pol Arief Wicaksono Sudiutomo. Mengingat rombongan tersebut akan transit di Singapura, Wakil Jaksa Agung selaku Ketua Tim Terpadu Pencari terpidana dan Tersangka Perkara Korupsi bersama anggota tim dari Kejaksaan dan NCB-INTERPOL berangkat ke Singapura guna memastikan dan mengamankan proses transit yang memakan tujuh jam lebih. Tim terpadu bersama rombongan berangkat bersama dalam satu pesawat GA 823 pada tanggal 13 Juni 2012. Penyerahan Sherny Kojongian dari ICE kepada Imigrasi Indonesia  dilakukan di dalam pesawat GA 823 di bandara Soekarno Hatta sesaat setelah mendarat.

Upaya memburu Sherny Kojongian merupakan wujud nyata implementasi  kerja sama para penegak hukum internasional negara-negara anggota ICPO-INTERPOL yang didukung dengan komitmen yang kuat dalam memberantas korupsi.

Keberhasilan pemulangan Sherny Kojongian menunjukkan komitmen pemerintah RI dalam memberantas korupsi tidak pernah berhenti dan para pelaku korupsi meskipun melarikan diri ke negara lain akan terus dikejar guna menjalani proses hukum di Indonesia. Melalui kerja sama internasional yang kuat maka tidak ada tempat yang aman untuk bersembunyi bagi para pelaku kejahatan khususnya korupsi.Sedangkan untuk terpidana lainnya yaitu : Eko Edi Putranto saat ini masih berstatus buronan dan juga menjadi subyek Red Notice INTERPOL.