Saturday, 19 May 2012
Indonesia (Bahasa Indonesia)English (United Kingdom)French (Fr)
Event
MAMPU PERTAHANKAN CATATAN PRESTASI DAN EKSISTENSI BANGSA DI UNAMID, SETIAP PERSONEL SATGAS FPU IV DINILAI LAYAK PEROLEH PENGHARGAAN
Wednesday, 21 March 2012 06:47    PDF Print E-mail
There are no translations available.

(Darfur, Sudan) Pernyatan di atas diungkapkan oleh Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk  Republik Sudan dan Eritrea, YM DR. Sudjatmiko, MA kepada personel Satuan Tugas  FPU Indonesia IV, Kontingen Garuda Bhayangkara yang bertugas di Darfur pada misi gabungan Uni Afrika-PBB, UNAMID, yang telah memulai misinya  sejak 31 Oktober tahun silam.

Pernyataan yang merupakan bagian dari arahan Dubes bagi personel Satgas pada acara malam akrab di Garuda Camp pada tanggal 12 Maret 2012 tersebut menurutnya bukan tanpa dasar. Berbagai rekomendasi lisan maupun tertulis dari berbagai komponen pemangku kepentingan selama ini baik  UNAMID, unsur pemerintahan Sudan maupun masyrakat Darfur telah diterimanya baik secara lisan maupun tertulis terkait performa kontingen Indonesia.

Malam akrab tersebut merupakan bagian dari agenda Dubes bersama personel Satgas FPU Indonesia IV setelah pada siang harinya menerima paparan laporan kesatuan yang disampaikan oleh Kasatgas FPU Indonesia IV, AKBP. Sugeng Muntaha, SIK. Berdasarkan laporan tersebut dan peninjauan langsung ke lapangan terhadap kondisi peralatan milik Satgas yang sebagian besar mulai berada dalam kondisi kelayakan dan kesiapan minimal untuk operasional, Dubes berharap agar Satgas patah semangat, tapi justru menjadikannya sebagai cambuk tantangan pemacu kreativitas demi tetap eksisnya Satgas FPU Indonesia di misi pemeliharaan perdamaian ini, secara sama baiknya dengan satuan tugas terdahulu. Dengan demikian, pada akhir misi nanti Satgas ini akan memiliki kebanggaan dan catatan prestasi tersendiri yang membedakannya dengan Satgas sebelumnya.

Ada pun bentuk reward yang paling tepat dan akan direkomendasikannya dalam bentuk tertulis secara berjenjang berdasarkan tataran kewenangan maupun tata kerja yang berlaku antar kementrian dan lembaga adalah baik yang bersifat simbol fisik maupun non-fisik. Yang bersifat  fisik tentunya berupa tanda kehormatan / satya lencana, sedangkan yang non-fisik adalah berupa kebijakan pemberian prioritas untuk memperoleh kesempatan membangun / mengembangkan kemampuan melalui jalur pendidikan pengembangan maupun prioritas pengembangan karier melalui promosi jabatan dan kepangkatan.

Masih menurut Sudjatmiko, dalam kedudukannya sebagai Warga Negara Indonesia, keberadaan ke-140 personel Polri pada Satuan tugas tersebut ditambah dengan tiga personel TNI sebagai Military Observer dan tujuh WNI lain sebagai staf sipil yang berstatus UN Volunteer telah menjadi atensi KBRI. Hal ini berdasarkan amanat tugas pokok, fungsi dan peran KBRI sebagaimana diamanatkan dalam Keputusan Presiden RI Nomor 108 Tahun 2003.

Kunjungan yang berlangsung dari tanggal 12-14 Maret tersebut selain diisi dengan agenda bersama Satgas FPU Indonesia IV juga diisi dengan kegiatan pertemuan bersama pimpinan tertinggi UNAMID yaitu Joint Special Representative, Prof. DR Ibrahim Gambari, Rektor Universitas El-Fasher dan Kepala Kepolisian Sudan bagian Darfur Utara. Dalam kesempatan tatap muka dengan JSR, Duta Besar RI sempat mengutarakan permasalahan birokrasi terkait perijinan masuk bagi lima unit APC Barracuda milik Polri di Port Of Sudan maupun visa bagi delapan Police Adviser Indonesia maupun Delegasi Supervisi Mabes Polri.

Menutup rangkaian kunjungan tersebut sebelum bertolak kembali ke Khartoum pada tanggal 14 Maret 2012, Duta Besar berpesan kepada seluruh personel Satgas melalui melalui AKBP Sugeng Muntaha agar setiap individu tetap menjaga integritas moral serta komitmen profesionalitas dalam melaksanakan tugas pengabdian di tengah-tengah tantangan dan hambatan yang dihadapi sambil tetap terus berpegang teguh pada visi Satgas FPU Indonesia IV yaitu untuk “tampil sebagai Duta Bangsa Indonesia dalam misi PBB UNAMID dI Darfur Sudan, yang mampu menunjukan profesionalisme kesatuan dan perorangan dalam melaksanakan tugas pokok selaku Formed Police Unit, tanpa mengesampingkan karakteristik positif khas Indonesia, sehingga dapat diterima oleh setiap komponen lokal maupun komunitas pergaulan internasional yang ada di misi”.

(Satgas FPU Indonesia IV – UNAMID)

 

 

 

 

 

 
THE 1ST PREVENTION AND INVESTIGATION OF SEXUAL AND GENDER BASED VIOLENCE COURSE, 2 – 13 MEI 2011, CoESPU, ITALIA
Monday, 11 July 2011 13:24    PDF Print E-mail
There are no translations available.

Kepolisian Negara Republik Indonesia secara konsisten sejak tahun 2007 hingga saat ini telah mengirimkan personilnya untuk mengikuti pelatihan di CoESPU, Vicenza, Italia untuk program Kursus Manajemen Tingkat Tinggi (High Level) dan Manajemen Tingkat Menengah (Middle Level). Program tersebut telah berakhir pada tahun 2010 dan PBB telah menyusun program baru yang saat ini dipandang perlu untuk dilaksanakan seiring dengan perkembangan keadaan di lapangan, yaitu the 1st Prevention and Investigation on Sexual and Gender Based Violence Course (SGBV).

Program ini berbeda dengan program sebelum baik dari segi materi maupun metode penyampaiannya. Materi yang disampaikan disini banyak mengulas tentang masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terjadi di daerah penugasan. Kasus yang dilaporkan ke PBB memang sangat memprihatinkan dimana perempuan dan anak-anak yang seharusnya dilindungi hak-haknya untuk mendapatkan rasa aman dan bebas dari kekerasan, malah dijadikan sebagai means of war (senjata perang). Perempuan banyak diperkosa oleh kelompok militan, laki-laki dewasa yang masih mempunyai hubungan keluarga dan bahkan anggota yang berseragam. Mereka tentunya mengalami trauma yang dalam secara fisik dan psikis. Sementara itu, anak-anak juga banyak yang dijadikan tentara untuk membantu orang dewasa selama masa konflik. Hal ini tentunya melanggar hak-hak anak yang seharusnya dian hidup bebas, mendapatkan kasih sayang dan kesempatan untuk sekolah.

Berdasarkan keadaan tersebut, maka PBB memandang perlu untuk meningkatkan kemampuan para anggota yang akan ditugaskan di daerah misi perdamaian tentang bagaimana mencegah dan menangani kekerasan yang terjadi pada perempuan dan anak di daerah misi perdamaian. Untuk itulah maka program kali ini yang diselenggarakan di CoESPU adalah 1st Prevention and Investigation on Sexual and Gender Based Violence Course.

Pelatihan the 1st Prevention and Investigation on Sexual and Gender Based Violence Course dilaksanakan pada tanggal 2 sampai dengan 13 Mei 2011 dengan partisipan dari Bangladesh, Cameroon, Indonesia, Yordania, Mali, Nepal, Nigeria, Rumania, Senegal, dan Ukraina. Partisipan dari Indonesia yaitu AKBP BASKORO TRI PRABOWO,S.ik,M.H, Kompol YULI CAHYANTI, S.S., M.Si. dan Kompol FERDIANSYAH, S.Ik.

Pelatihan dibuka secara resmi pada tanggal 2 Mei 2011 oleh Director CoESPU Brigadier General IT Rocca dan didampingi oleh Deputy Director CoESPU Colonel (US Marine) Franklin. Pada sambutannya, General IT Rocca menyampaikan bahwa pelatihan kali ini berbeda dengan pelatihan-pelatihan yang dilaksanakan oleh Coespu sebelumnya. Banyaknya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak di daerah misi perdamaian telah menjadi bahan perhatian dan pertimbangan tersendiri oleh PBB, untuk itu materi pada pelatihan kali ini dipandang sangat penting untuk disampaikan kepada para calon anggota yang akan ditugaskan di daerah misi. Mereka harus mengetahui tentang hal-hal yang berkaitan dengan perlindungan hak-hak perempuan dan anak-anak sehingga pada saat penugasan nantinya mereka telah mengetahui dan mempunyai kemampuan untuk melakukan perlindungan dan penanganan kasus-kasus yang berhubungan dengan pelanggaran hak-hak perempuan dan anak-anak, khususnya kasus kekerasan dan pemerkosaan yang saat ini banyak terjadi.

Selain itu  Deputy Director CoESPU Colonel (US Marine) Franklin menambahkan bahwa pelatihan ini menggunakan anggaran Amerika. Peserta yang dapat mengikuti pelatihan ini adalah orang-orang pilihan karena prosesnya adalah peserta diseleksi oleh negaranya masing-masing dan kemudian diseleksi lebih detail lagi oleh Coespu terutama oleh Col Franklin sendiri. Tujuannya adalah bahwa mereka yang dapat mengikuti pelatihan ini adalah mereka yang memenuhi standar penilaian PBB yang siap untuk ditugaskan di daerah misi perdamaian dan yang menjadi instruktur/pada pelatihan misi perdamaian di negaranya masing-masing.

Dalam pelatihan 1st Prevention and Investigation on Sexual and Gender Based Violence Course, peserta mendapatkan materi-materi yang berhubungan dengan upaya pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak dan juga pengetahuan tentang organisasi internasional PBB dalam perannya melakukan upaya perdamaian dunia. Materi-materi tersebut disampaikan oleh para pengajar yang berpengalaman dan “qualified” dibidangnya baik dari lingkungan Carabinieri dan PBB maupun dari universitas terkemuka di Italia.

Materi-materi tersebut disampaikan oleh pengajar dengan menggunakan metode pengajaran communicative apprach, two ways communication, sharing experience, discussion dan role play. Metode-metode tersebut sangat efektif bagi para peserta pelatihan mengingat peserta yang mengikuti pelatihan tersebut adalah orang-orang yang sangat pengalaman dibidangnya dan telah bertugas lama di kepolisian. Pengetahuan dan pengalaman pengajar dipadukan dengan pengetahuan dan pengalaman peserta selama bertugas merupakan kombinasi yang cukup baik dan komprehensif dalam memahami materi yang diberikan. Selain itu metode diskusi yang dibagi dalam kelompok dimana tiap kelompoknya terdiri dari berbagai negara merupakan metode yang cukup baik dalam berbagi pengalaman antar peserta. Dengan demikian, peserta dapat memahami permasalahan dan materi yang disampaikan oleh pengajar dengan baik, disisi lain pengajarpun mendapatkan banyak informasi tentang pengalaman di lapangan dari para peserta pelatihan.

Pada tanggal 13 Mei 2011, kegiatan pelatihan berakhir dan ditutup dengan resmi pada saat clossing ceremony dan penyerahan sertifikat oleh Director CoESPU Brigadier General IT Rocca dan Deputy Director CoESPU Colonel (US Marine) Franklin pada jam 11.00 am waktu setempat.

Pada kesempatan kali ini, Deputy Director CoESPU Colonel (US Marine) Franklin menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada semua peserta pelatihan karena pelatihan yang diprogramkan ini telah berjalan dengan lancar dan sesuai dengan target yang diinginkan. Selain itu disampaikan pula bahwa peserta pelatihan kali ini dipandang sangat serius dan bersungguh-sungguh dalam mengikuti pelajaran di kelas, hal ini menimbulkan kesan tersendiri bagi pejabat di Coespu. Sementara itu, harapan yang dibebankan kepada para peserta adalah agar peserta dapat menerapkan materi yang telah diberikan dalam pelaksanaan tugas di misi perdamaian dan peserta dapat meneruskan kembali pengetahuan yang telah didapat ini kepada peserta didik yang disiapkan untuk bertugas pada misi perdamaian.

Setelah penutupan pelatihan, peserta diajak untuk berkumpul bersama di gedung utama untuk perpisahan yang dihadiri oleh semua peserta pelatihan dan para pejabat di Coespu. (NCB)